TKQ/TPQ/RA Al-Falah

Home » hikmah » Mari Berdialog

Mari Berdialog

Ada seorang pemuda datang menghadap Rasulullah untuk bertobat, dia siap meninggalkan segala dosa, kecuali zina. Pengakuan pemuda itu direspons dengan sinis oleh beberapa orang sahabat, tetapi Rasulullah justru mengajak pemuda itu berdialog dengan senyuman seorang pembawa kabar gembira. Rasulullah bertanya, ”Sukakah engkau kalau hal ini terjadi pada ibumu?” Dia menjawab, ”Tidak, demi Allah, aku sebagai jaminanmu,” jawabnya. ”Demikian pula halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka,” jelas Rasulullah kepada pemuda itu. Kemudian, beliau ajukan pertanyaan lagi, ”Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada anak perempuanmu?” Dia menjawab, ”Tidak, demi Allah, Allah menjadikan diriku sebagai jaminanmu.”

Beliau jelaskan lagi, ”Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada anak perempuan mereka.” Kemudian, beliau tanya, ”Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?”

Pemuda itu menjawab, ”Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu.” Lalu, beliau bersabda, ”Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka. Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu?”

Kembali pemuda itu menjawab, ”Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu.” Rasulullah mengatakan, ”Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi mereka.” Kemudian, Rasulullah meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan, ”Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.” Sang pemuda pun menyatakan pertobatannya.

Rasulullah sebagai pembawa misi dakwah, sedari awal menyampaikan dakwah dengan budaya dialog bukan dengan kekerasan. Dalam banyak lintasan sejarah, sikap ini diulang-ulang oleh Rasulullah. Ternyata, hasilnya luar biasa, orang yang tadinya membenci dan memusuhi Islam justru berbalik menjadi pembela dakwah Rasulullah.

Budaya dialog juga menjadi budaya semua utusan Allah yang kemudian mereka wariskan kepada umat hari ini. Di dalam Alquran, kita menemukan potongan-potongan dialog antara nabi Ibrahim dengan Namrudz musuh Allah, dialog Musa dengan Firaun, dialog Yusuf dengan penguasa Mesir, dan sebagainya.

Hal ini semua menjadi penegasan kepada kita bahwa kebenaran harus disampaikan dan dibela, tetapi tidak dengan cara yang anarkis dan penuh kebencian. Bahkan, Allah berpesan kepada Nabi Musa dan Harun yang akan berdialog dengan Firaun agar menggunakan tutur bahasa yang lemah lembut.

 

 

 

Oleh : Inspiraini

sumber: www.republika.co.id


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: